Sabtu, 07 April 2012

Social Group Work


C. METODE BIMBINGAN SOSIAL KELOMPOK
(SOCIAL GROUP WORK)


1. Pengertian Bimbingan Sosial Kelompok

a. Menurut H.B. Trecker, Social Group Work, Principles and Practice (1948) Metode bimbingan untuk membantu individu yang terikat dalam kelompok agar dapat mengikuti kegiatan kelompok. Dengan demikian, individu dapat bergaul dengan sesama anggota kelompok secara baik dan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pergaulan atau perkem­bangan pribadi, kelompok, dan masyarakat.


b. Menurut Friedlander, Concept and Methods of Social Work (1965) bahwa pekerja sosial kelompok bekerja dengan berbagai cara agar pergaulan di dalam kelompok dan kegiatan kerja kelompok dapat mem­bantu perkembangan para individu anggota kelompok dan membantu mencapai tujuan sosial yang dikehendaki.






Dari dua definisi bimbingan sosial kelompok dapat ditarik beberapa pengertian sebagai berikut :

a. Bimbingan Sosial Kelompok dilaksanakan untuk meno­long  individu yang terikat di dalam kelompok.
b. Bimbingan tersebut diberikan oleh pekerja sosial dalam mengikuti kegiatan kelompok.
c. Tujuan Bimbingan Sosial Kelompok adalah agar :
1) Individu yang terikat dalam kelompok dapat ber­gaul dengan sesama anggota kelompok secara  baik.
2) Individu dapat mengambil manfaat dari pengalaman pergaulan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
3) Individu dapat mencapai kemajuan atau perkem­bangan pribadi, kelompok, dan masyarakat.


Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Bim­bingan Sosial Kelompok adalah serangkaian cara kerja atau prosedur yang teratur dan sistematis yang diterapkan dalam membimbing individu yang terikat di dalam ke­lompok. Dengan bimbingan tersebut, individu dapat berinter­aksi dan menyesuaikan diri dengan sesama anggota kelompok; bisa mengembangkan kemampuannya dalam berpartisipasi se­hingga dapat mengembangkan diri secara optimal; serta dapat memajukan kelompok dan masyarakat dalam kapasitasnya sebagai anggota.



2.  Komponen Bimbingan Sosial Kelompok
Memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan erat satu sama lain, yaitu  :
a. Penyandang masalah, yaitu individu yang terikat dalam kelompok.
b. Permasalahan yang dihadapi.
c. Tempat untuk memecahkan masalah.
d. Pekerja sosial sebagai tenaga profesional yang membantu memecahkan masalah.

Klien atau penyandang masalah yang ditangani BSK adalah individu yang terikat men­jadi kelompok (anggota kelompok) dan
Mengalami permasa­lahan di dalam kehidupan kelompoknya., seperti tidak dapat bekerja sama dengan anggota kelompok lain; tidak bisa me­nyesuaikan diri dengan norma‑norma kelompoknya; merasa rendah diri, minder, dan kurang percaya diri; merasa frustrasi karena tidak bisa mengikuti kegiatan kelompoknya; terjadi  ke­tegangan antar anggota; ada masalah dalam kelompok yang belum terpecahkan.
Tempat untuk memecahkan masalah dapat dilaksanakan di badan (lembaga sosial) tempat pekerja sosial memberikan pelayanan sosial atau dapat juga dilaksanakan di tempat kelompok tersebut berada.
Sebagai petugas pekerja sosial perlu mengenal masing‑masing individu dalam kelompok dan mengerti berbagai kebutuhannya. Dengan demikian, ia dapat membantu individu mengembang­kan diri secara optimal sesuai kemampuan masing‑masing.

3. Prinsip Bimbingan Sosial Kelompok
a. Prinsip Umum (General Principles)
Prinsip umum sebagai dasar pelaksanaan metode BSK adalah :
1)    Keyakinan  bahwa  setiap manusia  memiliki  kehormatan diri,  kemuliaan, dan kesempurnaan yang harus dihargai dan dijunjung tinggi.

2)  Keyakinan  bahwa  setiap  manusia  yang memiliki   pende­ritaan   pribadi, ekonomi, dan sosial mempunyai hak untuk menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya dan bagaimana cara mengatasinya.
    
3)    Keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama, yang hanya dibatasi oleh kemampuan masing­-masing.

4)    Keyakinan bahwa ketiga prinsip umum tersebut    berhu­bungan dengan tanggung jawab sosial terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakat.








b. Prinsip Khusus (Differential Principles)
Menurut H.B. Trecker (1948), adalah :
1) Prinsip pembentukan kelompok yang terencana
Sebagai wadah untuk menyatukan individu. Tuju­annya agar individu memperoleh pelayanan dan punya tempat untuk mengembang­kan pribadinya dan memecahkan masalah yang dihadapi.

2) Prinsip tujuan khusus
Pekerja sosial harus merumuskan tujuan khusus untuk perkembangan individu dan kelompok, sehingga memudahkan dalam merumuskan kegiatan dengan mempertimbang­kan harapan dan kemampuan kelompok.

3) Prinsip hubungan petugas kelompok yang bertujuan
BSK harus dibina hubungan atas, dasar keyakinan bahwa pekerja sosial menerima para anggota kelompok apa adanya dan mereka memperoleh bantuan dari pekerja sosial.
4) Prinsip individualisasi yang terus ‑ menerus
Memperhatikan tiap anggota dalam kelompok secara individual dan terus‑menerus. Hal ini disebabkan setiap kelompok berbeda dan individu yang men­jadi anggotanya mempergunakan pengalaman kelompoknya dengan cara masing‑masing untuk memenuhi kebutuhannya. Kelompok dan individu harus dipandang sebagai se­suatu yang sedang dan senantiasa dalam keadaan berkembang dan berubah‑ubah.
5)  Prinsip interaksi kelompok yang terpimpin
Interaksi yang saling mempengaruhi antar anggota      kelom­pok merupakan kekuatan inti untuk menggerakkan kelompok dan mempengaruhi anggota kelompok melakukan perubahan. Pekerja sosial perlu melibatkan diri.

6)  Prinsip demokrasi dalam menentukan ke­lompok sendiri
Membantu kelompok dalam mengam­bil keputusan dan menentukan kegiatan yang diingin­kannya. Dibimbing bertanggung jawab sesuai dengan kemampuannya dan menjadi pengawas dalam kegiatannya sendiri.

7)  Prinsip fungsi organisasi yang fleksibel
Organisasi kelompok harus fleksibel dalam mencapai tu­juan bersama dan mendorong anggo­tanya bekerja sesuai fungsinya. Apabila sudah tidak tepat, disesuai­kan dan diubah sesuai keperluan.

8)  Prinsip pengalaman program yang progesif
Program‑program ha­rus disesuaikan dengan minat, kebutuhan, pengalaman, dan kepentingan anggota, serta berguna untuk memajukan  per­kembangan kelompok.

9)  Prinsip penggunaan sumber
Memanfaatkan sum­ber yang ada dalam masyarakat maupun di sekitar badan (lembaga sosial) untuk memperkaya pengalaman ke­lompok dan memanfaatkan anggota dalam kelompok itu sen­diri.
4. Fungsi Bimbingan Sosial Kelompok

Sebagai metode pekerjaan sosial, Bimbingan Sosial Kelom­pok mempunyai fungsi sebagai berikut.
a.  Menolong individu yang tertekan atau mengalami ma­salah.
b.  Menolong kelompok untuk mencapai tujuan.
c.   Mengadakan kegiatan yang bersifat preventif dan               pe­ngembangan.


5. Teknik Bimbingan Sosial Kelompok
Dalam rangka perkembangan pribadi dan kelompok  diperlukan teknik tertentu. Teknik yang dimaksud adalah :
a.   Diskusi,
b.   Role playing,
c. Studi kasus,
d. Brain storming,
e.   Interviu kelompok.

6. Tahapan dalam Proses dan Penerapan Metode BSK.
a. Tahap Pengumpulan Data (Fact Finding)
b. Tahap Diagnosis
c. Tahap Penyembuhan (Treatment)





a. Diskusi

1)   Pengertian
Salah satu jenis interaksi verbal merupa­kan percakapan dua orang atau lebih tentang topik tertentu sehingga diperoleh berbagai pendapat, infor­masi, dan pengalaman yang beragam, yang pada akhirnya dapat diperoleh kesimpulan tentang topik yang dibicarakan.
Peserta dapat berpartisipasi dan menyampaikan pikirannya dalam membuat keputusan sebagai hasil kesepa­katan bersama.

2)   Kegunaan diskusi
a) Menggali ide, perasaan, dan pengalaman anggota          ke­lompok yang berbeda;
b)  Memberi kesempatan pada anggota kelompok   un­tuk berpartisipasi dan berkreasi dalam mengembang­kan ide, gagasan, atau pengalaman‑ pengalaman;
c)  Memungkinkan untuk mempelajari banyak hal dari anggota yang lain;
d)  Memberi kesempatan anggota kelompok un­tuk berpartisipasi dalam membuat keputusan       kelom­pok;
e)  Meningkatkan kemampuan anggota kelompok untuk berkembang secara optimal.




b. Permainan Peran (Role Playing)
1 )   Pengertian
Suatu teknik yang dilaksanakan de­ngan memainkan peranan tertentu seperti peran yang sesung­guhnya dengan tujuan memberikan kesempatan kepada ang­gota kelompok untuk mempraktekkan bagaimana semestinya bersikap atau bereaksi bila dihadapkan kepada suatu masalah.

2)  Kegunaan role playing
a)  Melatih kepekaan anggota kelompok terhadap masa­lah yang dihadapi;
b)  Melatih keterampilan hubungan kemanusiaan          (inter­personal) anggota kelompok;
c)   Melatih anggota kelompok dalam mengontrol emosi;
d)  Melatih keterampilan anggota kelompok dalam            me­mecahkan berbagai masalah.

c.  Studi Kasus
1) Pengertian
Kumpulan dari semua bahan (infor­masi) maupun fakta yang berguna untuk memberikan suatu gambaran yang diperlukan dalam memahami orang yang ter­libat dalam suatu kasus atau permasalahan. Dalam pekerjaan sosial, studi kasus berfungsi untuk menunjukkan hakikat dari situasi kasus; apa yang dilakukan terhadap masalah tersebut; dan bagaimana memecahkannya.

2) Kegunaan studi kasus
a) Melatih anggota kelompok dalam mengembangkan kemampuannya dalam menganalisis permasalahan yang ada secara sistematik;
b) Melatih anggota kelompok untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat;
c)  Memberi kesempatan kepada anggota kelompok un­tuk memperoleh pengalaman (gambaran) tentang ke­adaan tertentu.

d.  Brain Storming

1).  Pengertian
Sebuah teknik untuk menyampai­kan ide (gagasan) dengan cara langsung, spontan, dan cepat dalam rangka memecahkan masalah. Segala usul (saran) itu ditulis pada papan tulis dan diolah oleh kelompok untuk dicari kesimpulannya sebagai kesepakatan bersama.

2).  Kegunaan brain storming
a)   Melatih anggota kelompok untuk berpikir secara cepat;
b)  Melatih anggota kelompok untuk berani menyampai­kan ide (gagasan) secara langsung dan spontan;
d)  Melatih anggota kelompok untuk memecahkan masa­lah.




e. Interviu Kelompok

1)  Pengertian
Wawancara yang dilakukan dengan sekelompok anggota untuk mencari bahan atau keterangan yang berguna untuk memecahkan masalah. De­ngan demikian, anggota kelompok yang terlibat dalam interviu diharapkan aktif berpartisipasi memberikan masukkan, ide, atau gagasan yang diperlukan demi kemajuan kelompok.
Pelaksanaan wawancara dapat dilakukan bergantian antara pekerja sosial (interviewer) dengan anggota kelompok dengan munggunakan pedoman interviu yang telah dipersiapkan, atau dapat juga dilakukan oleh seorang interviewer kelompok dalam suatu pertemuan atau melalui kunjungan antar kelompok.

2) Kegunaan interviu kelompok
a) Melatih anggota untuk berani menyampaikan ide, ga­gasan atau pendapatnya di depan orang lain;
b) Melatih kepekaan anggota terhadap suatu permasa­lahan yang dihadapi oleh kelompok;
c) Menggalang kerja sama dan partisipasi antar anggota kelompok;
d) Mengkaji rencana kerja yang akan dilaksanakan demi kemajuan kelompok.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar