C. METODE BIMBINGAN SOSIAL
KELOMPOK
(SOCIAL GROUP WORK)
1. Pengertian Bimbingan
Sosial Kelompok
a.
Menurut H.B. Trecker, Social Group Work,
Principles and Practice (1948) Metode bimbingan untuk
membantu individu yang terikat dalam kelompok agar dapat mengikuti kegiatan
kelompok. Dengan demikian, individu dapat bergaul dengan sesama anggota
kelompok secara baik dan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pergaulan atau
perkembangan pribadi, kelompok, dan masyarakat.
b.
Menurut Friedlander, Concept and Methods
of Social Work (1965)
bahwa pekerja sosial kelompok bekerja dengan
berbagai cara agar pergaulan di dalam kelompok dan kegiatan kerja kelompok
dapat membantu perkembangan para individu anggota kelompok dan membantu
mencapai tujuan sosial yang dikehendaki.
Dari dua definisi bimbingan
sosial kelompok dapat ditarik beberapa pengertian sebagai berikut :
a. Bimbingan
Sosial Kelompok dilaksanakan untuk menolong
individu yang terikat di dalam kelompok.
b. Bimbingan
tersebut diberikan oleh pekerja sosial dalam mengikuti kegiatan kelompok.
c. Tujuan
Bimbingan Sosial Kelompok adalah agar :
1) Individu yang terikat dalam kelompok
dapat bergaul dengan sesama anggota kelompok secara baik.
2) Individu dapat mengambil manfaat dari
pengalaman pergaulan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
3) Individu dapat mencapai kemajuan atau
perkembangan pribadi, kelompok, dan masyarakat.
Dari
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Bimbingan Sosial Kelompok
adalah serangkaian cara kerja atau prosedur yang teratur dan sistematis yang
diterapkan dalam membimbing individu yang terikat di dalam kelompok. Dengan
bimbingan tersebut, individu dapat berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan
sesama anggota kelompok; bisa mengembangkan kemampuannya dalam berpartisipasi sehingga
dapat mengembangkan diri secara optimal; serta dapat memajukan kelompok dan
masyarakat dalam kapasitasnya sebagai anggota.
2. Komponen Bimbingan Sosial Kelompok
Memiliki beberapa komponen yang saling berkaitan erat
satu sama lain, yaitu :
a. Penyandang masalah, yaitu individu
yang terikat dalam kelompok.
b.
Permasalahan yang dihadapi.
c. Tempat
untuk memecahkan masalah.
d. Pekerja
sosial sebagai tenaga profesional yang membantu memecahkan masalah.
Klien atau penyandang
masalah yang ditangani BSK adalah individu yang
terikat menjadi kelompok (anggota kelompok) dan
Mengalami permasalahan di
dalam kehidupan kelompoknya., seperti tidak dapat bekerja sama dengan anggota
kelompok lain; tidak bisa menyesuaikan diri dengan norma‑norma kelompoknya;
merasa rendah diri, minder, dan kurang percaya diri; merasa frustrasi karena
tidak bisa mengikuti kegiatan kelompoknya; terjadi ketegangan antar anggota; ada masalah dalam
kelompok yang belum terpecahkan.
Tempat untuk
memecahkan masalah dapat dilaksanakan di badan (lembaga sosial) tempat pekerja
sosial memberikan pelayanan sosial atau dapat juga dilaksanakan di tempat
kelompok tersebut berada.
Sebagai petugas pekerja
sosial perlu mengenal masing‑masing individu dalam
kelompok dan mengerti berbagai kebutuhannya. Dengan demikian, ia dapat membantu
individu mengembangkan diri secara optimal sesuai kemampuan masing‑masing.
3. Prinsip Bimbingan Sosial
Kelompok
a. Prinsip Umum (General Principles)
Prinsip umum sebagai dasar pelaksanaan
metode BSK adalah :
1) Keyakinan bahwa
setiap manusia memiliki kehormatan diri, kemuliaan, dan kesempurnaan yang harus
dihargai dan dijunjung tinggi.
2)
Keyakinan bahwa setiap
manusia yang memiliki penderitaan pribadi, ekonomi, dan sosial mempunyai hak
untuk menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya dan bagaimana cara
mengatasinya.
3) Keyakinan
bahwa setiap manusia memiliki kesempatan yang sama, yang hanya dibatasi oleh
kemampuan masing-masing.
4) Keyakinan
bahwa ketiga prinsip umum tersebut berhubungan
dengan tanggung jawab sosial terhadap dirinya, keluarga, dan masyarakat.
b. Prinsip Khusus (Differential Principles)
Menurut H.B. Trecker (1948),
adalah :
1) Prinsip pembentukan kelompok yang terencana
Sebagai wadah untuk menyatukan
individu. Tujuannya agar individu memperoleh pelayanan dan punya tempat untuk
mengembangkan pribadinya dan memecahkan masalah yang dihadapi.
2) Prinsip tujuan khusus
Pekerja sosial harus merumuskan
tujuan khusus untuk perkembangan individu dan kelompok, sehingga memudahkan
dalam merumuskan kegiatan dengan mempertimbangkan harapan dan kemampuan
kelompok.
3) Prinsip hubungan petugas
kelompok yang bertujuan
BSK harus dibina hubungan atas,
dasar keyakinan bahwa pekerja sosial menerima para anggota kelompok apa adanya
dan mereka memperoleh bantuan dari pekerja sosial.
4) Prinsip individualisasi
yang terus ‑ menerus
Memperhatikan tiap anggota
dalam kelompok secara individual dan terus‑menerus. Hal ini disebabkan setiap
kelompok berbeda dan individu yang menjadi anggotanya mempergunakan pengalaman
kelompoknya dengan cara masing‑masing untuk memenuhi
kebutuhannya. Kelompok dan individu harus dipandang sebagai sesuatu yang
sedang dan senantiasa dalam keadaan berkembang dan berubah‑ubah.
5) Prinsip interaksi kelompok yang terpimpin
Interaksi yang saling mempengaruhi antar anggota kelompok merupakan kekuatan inti untuk
menggerakkan kelompok dan mempengaruhi anggota kelompok melakukan perubahan.
Pekerja sosial perlu melibatkan diri.
6) Prinsip demokrasi dalam menentukan kelompok
sendiri
Membantu kelompok dalam mengambil
keputusan dan menentukan kegiatan yang diinginkannya. Dibimbing bertanggung
jawab sesuai dengan kemampuannya dan menjadi pengawas dalam kegiatannya
sendiri.
7) Prinsip fungsi organisasi yang fleksibel
Organisasi kelompok harus fleksibel
dalam mencapai tujuan bersama dan mendorong anggotanya bekerja sesuai
fungsinya. Apabila sudah tidak tepat, disesuaikan dan diubah sesuai keperluan.
8) Prinsip pengalaman program yang progesif
Program‑program harus disesuaikan dengan minat,
kebutuhan, pengalaman, dan kepentingan anggota, serta berguna untuk
memajukan perkembangan kelompok.
9) Prinsip penggunaan sumber
Memanfaatkan sumber yang ada dalam masyarakat maupun di
sekitar badan (lembaga sosial) untuk memperkaya pengalaman kelompok dan
memanfaatkan anggota dalam kelompok itu sendiri.
4. Fungsi Bimbingan Sosial
Kelompok
Sebagai metode pekerjaan
sosial, Bimbingan Sosial Kelompok mempunyai fungsi sebagai berikut.
a. Menolong
individu yang tertekan atau mengalami masalah.
b. Menolong
kelompok untuk mencapai tujuan.
c. Mengadakan
kegiatan yang bersifat preventif dan pengembangan.
5. Teknik Bimbingan Sosial
Kelompok
Dalam rangka perkembangan pribadi dan kelompok diperlukan teknik tertentu. Teknik yang
dimaksud adalah :
a. Diskusi,
b. Role
playing,
c. Studi kasus,
d. Brain storming,
e. Interviu
kelompok.
6. Tahapan dalam Proses dan
Penerapan Metode BSK.
a. Tahap Pengumpulan Data (Fact Finding)
b. Tahap Diagnosis
c. Tahap Penyembuhan
(Treatment)
a.
Diskusi
1)
Pengertian
Salah
satu jenis interaksi verbal merupakan percakapan dua orang atau lebih tentang
topik tertentu sehingga diperoleh berbagai pendapat, informasi, dan pengalaman
yang beragam, yang pada akhirnya dapat diperoleh kesimpulan tentang topik yang
dibicarakan.
Peserta
dapat berpartisipasi dan menyampaikan pikirannya dalam membuat keputusan
sebagai hasil kesepakatan bersama.
2)
Kegunaan diskusi
a)
Menggali ide, perasaan, dan pengalaman anggota kelompok yang berbeda;
b) Memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk berpartisipasi dan berkreasi dalam
mengembangkan ide, gagasan, atau pengalaman‑ pengalaman;
c) Memungkinkan untuk mempelajari banyak hal dari
anggota yang lain;
d) Memberi kesempatan anggota kelompok untuk
berpartisipasi dalam membuat keputusan
kelompok;
e) Meningkatkan kemampuan anggota kelompok untuk
berkembang secara optimal.
b.
Permainan Peran (Role Playing)
1 ) Pengertian
Suatu teknik yang
dilaksanakan dengan memainkan peranan tertentu seperti peran yang sesungguhnya
dengan tujuan memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk
mempraktekkan bagaimana semestinya bersikap atau bereaksi bila dihadapkan
kepada suatu masalah.
2) Kegunaan role playing
a) Melatih kepekaan anggota kelompok terhadap
masalah yang dihadapi;
b) Melatih keterampilan hubungan kemanusiaan (interpersonal) anggota kelompok;
c) Melatih anggota kelompok dalam mengontrol
emosi;
d) Melatih keterampilan anggota kelompok
dalam memecahkan berbagai
masalah.
c. Studi Kasus
1) Pengertian
Kumpulan dari semua
bahan (informasi) maupun fakta yang berguna untuk memberikan suatu gambaran
yang diperlukan dalam memahami orang yang terlibat dalam suatu kasus atau
permasalahan. Dalam pekerjaan sosial, studi kasus berfungsi untuk menunjukkan
hakikat dari situasi kasus; apa yang dilakukan terhadap masalah tersebut; dan
bagaimana memecahkannya.
2) Kegunaan
studi kasus
a) Melatih anggota kelompok dalam mengembangkan
kemampuannya dalam menganalisis permasalahan yang ada secara sistematik;
b) Melatih anggota kelompok untuk mencari
alternatif pemecahan masalah yang tepat;
c) Memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk
memperoleh pengalaman (gambaran) tentang keadaan tertentu.
d. Brain Storming
1). Pengertian
Sebuah teknik untuk
menyampaikan ide (gagasan) dengan cara langsung, spontan, dan cepat dalam
rangka memecahkan masalah. Segala usul (saran) itu ditulis pada papan tulis dan
diolah oleh kelompok untuk dicari kesimpulannya sebagai kesepakatan bersama.
2). Kegunaan brain
storming
a) Melatih
anggota kelompok untuk berpikir secara cepat;
b) Melatih anggota kelompok untuk berani menyampaikan ide (gagasan) secara
langsung dan spontan;
d) Melatih anggota kelompok untuk memecahkan masalah.
e.
Interviu Kelompok
1) Pengertian
Wawancara yang
dilakukan dengan sekelompok anggota untuk mencari bahan atau keterangan yang
berguna untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, anggota kelompok yang
terlibat dalam interviu diharapkan aktif berpartisipasi memberikan masukkan,
ide, atau gagasan yang diperlukan demi kemajuan kelompok.
Pelaksanaan wawancara
dapat dilakukan bergantian antara pekerja sosial (interviewer) dengan anggota kelompok dengan munggunakan pedoman
interviu yang telah dipersiapkan, atau dapat juga dilakukan oleh seorang interviewer kelompok dalam suatu
pertemuan atau melalui kunjungan antar kelompok.
2) Kegunaan
interviu kelompok
a) Melatih anggota untuk berani menyampaikan ide,
gagasan atau pendapatnya di depan orang lain;
b) Melatih kepekaan anggota terhadap suatu permasalahan
yang dihadapi oleh kelompok;
c) Menggalang kerja sama dan partisipasi antar
anggota kelompok;
d) Mengkaji rencana kerja yang akan dilaksanakan
demi kemajuan kelompok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar